Wednesday, October 28, 2009

Ini essai yg saya tulis buat lomba "jika aku jadi rektor ITB" yang diadakan oleh ITB. Ini murni program impian saya deh, kalo suatu saat saya bisa ngebangun sekolah sendiri...hohhooo


ITB Mencatak Mahasiswa yang Unggul dalam Akademik dan Kepribadian
dengan Program
Target and Reward (TAR)

1. ITB dengan segala Ketenarannya
Institut Teknologi Bandung. Wah, mendengar dari namanya saja orang-orang sudah akan mengetahui kualitasnya. ITB sudah luhur semenjak zaman Belanda, dan masih eksis hingga kini sebagai salah satu perguruan tinggi terbaik (dan kalau boleh dibilang, perguruang tinggi teknik terbaik) di Indonesia. Hanya Indonesia? Hmm..ITB juga diperhitungkan dalam rangking universitas dunia.
Dari fakta ini saya bisa katakan bahwa kualitas akademik bukanlah menjadi kendala lagi.

Siapa yang tidak mengenal bung Karno, dengan segala keberaniannya dalam memimpin Indonesia menuju bangsa yang merdeka penuh? Atau B.J Habibie, yang bahkan negara Jerman berani “menyewa” beliau untuk menjadi salah seorang ahli disana? Bung Karno memperoleh gelar insinyurnya dari ITB, B.J Habibie memulai prestasi cemerlang beliau dari kampus ITB. Lihat, ITB sudah menciptakan dua tokoh yang pernah menjadi orang nomor 1 di Indonesia, yang juga disegani dunia. Yang tidak kalah penting, baru-baru ini telah dilantik Kabinet Indonesia Bersatu II, dan dari universitas mana menterinya paling banyak berasal? ITB.
Dari fakta ini saya berani mengatakan bahwa rahim ITB sudah sukses melahirkan pemimpin-pemimpin bangsa.

2. Apa Masalah yang Dihadapi ITB?
ITB sudah terlihat sangat komplet. Kemampuan akademik yang hebat dan lulusannya yang sudah menjadi pemimpin-pemimpin bangsa. Tapi apakah terlihat sesempurna itu? Tunggu dulu. Di awal tahun 2009, sebuah media cetak memuat suatu arikel hasil survey mereka mengenai presentase lulusan-lulusan berbagai universitas di Indonesia yang diserap di lapangan pekerjaan. Yang sangat mengejutkan adalah, ITB, dengan segala prestasi akademik yang diusungnya, dengan segala kredibilitas ‘rangking dunia’ yang dipegangnya, bukanlah yang terbanyak dalam kontribusi penyumbang tenaga kerja di Indonesia. Justru universitas-universitas lain, yang secara kualitas akademik masih dibawah ITB, memiliki presentase yang lebih tinggi.
Mengapa ini dapat terjadi? Media itu kemudian menelaah faktor X yang menyebabkan keanehan ini. Hasil yang mereka paparkan seakan “menampar” ITB telak di pipi. Mereka menyatakan bahwa penyebab lulusan-lulusan ITB kalah bersaing dengan lulusan dari universitas-universitas lain adalah karena sifat psikologis dari lulusan-lulusan ITB yang individualis. Hasil menunjukkan bahwa para lulusan ITB memang nomor 1 di bidang intelektual, namun di bidang emosi, manajerial dan kerjasama, lulusan ITB masih jauh tertinggal di banding yang lain.
Ternyata memang lapangan pekerjaan memang seperti itu adanya. Kemampuan akademik bukanlah yang utama. Yang paling penting adalah kepribadian/psikologi seseorang, yakni kemampuannya dalam bekerja sama, ketahanan terhadap tekanan dan kemauan untuk mempelajari sesuatu yang baru. Sayangnya, banyak dari para pelamar lulusan ITB yang gagal dalam bidang ini.
Saya bisa mengatakan hal ini adalah hal yang cukup fatal. Perlu diadakan perbaikan sesegera mungkin untuk menyelesaikan permasalahan ini.

3. Apa yang Harus Dilakukan?
Apa alasan manusia belajar? Apa alasan manusia harus bersusah payah mengenyam pendidikan sebegitu lamanya? Dari hasil obrolan dan survey saya kepada teman-teman saya, sebagian besar dari mereka mengatakan bahwa “mereka belajar agar mereka memiliki modal untuk menang bersaing dan berkompetisi, di ladang manapun yang mereka datangi”. Saya dapat menyimpulkan dengan bahasa yang lebih mudah, yakni “agar bisa bekerja dan menjadi bos di perusahaan”.
Berdasarkan fakta dari media tersebut, kini dapatkah kita menjamin bahwa kemampuan intelektual adalah yang paling dibutuhkan dalam sebuah pekerjaan? Ternyata tidak. Memang kemampuan intelektual itu sangatlah penting, namun kemampuan untuk bekerja sama, kemampuan untuk mengendalikan diri, atau saya singkat, kemampuan psikologi dan emosi yang baik adalah yang paling utama untuk bersaing di dunia pekerjaan.
Noordin M Top, Dr. Azhari. Mereka adalah orang-orang yang cerdas secara intelektual. Namun, bagaimana pandangan masyarakat dunia terhadap mereka setelah berbagai hal yang sudah mereka lakukan?Mereka hanya dipandang sebagai pecundang, orang jahat, dan konotasi negatif lainnya atas perbuatan mereka.
Koruptor-koruptor di Indonesia, baik yang sudah mendekam di penjara atau yang masih berjaya, mereka adalah orang-orang cerdas secara intelektual dan strategi. Namun, kecurangan yang mereka lakukan terhadap keuangan perusahaan dan/atau negara bukanlah suatu hal yang cerdas yang dapat diterima.
Dari fakta ini saya berani mengatakan bahwa kecerdasan intelektual tanpa kecerdasan psikologi adalah sesuatu yang timpang dan akan menghasilkan efek yang tidak baik.
ITB memiliki PR yang cukup sulit kalau begitu.

ITB harus berani merevisi pendidikannya, agar tidak hanya mengasah dan meningkatkan kemampuan intelektual mahasiswanya, namun juga dapat mengasah dan meningkatkan kapabilitas kemampuan psikologi/kepribadiannya. Jika hal ini tidak sesegera mungkin dilakukan, saya tidak heran jika beberapa tahun kedepan, meski lulus dengan IP baik, lulusan-lulusan ITB akan sulit memperoleh pekerjaan di berbagai perusahaan.

Dan seorang REKTORlah yang harus memimpin segala macam revisi, improvisasi dan inovasi itu.

4. Jika Saya Menjadi Rektor ITB….
Saya akan berusaha membangun ITB menjadi sebuah institusi pendidikan yang unggul tidak hanya dalam bidang akademik, namun juga kepribadian/psikologi. Saya ingin mengubah idiom masyarakat yang menyebut ITB=Institut Terindividualis Bangsa.
Institusi pendidikan yang baik adalah institusi pendidikan yang mampu menjadikan lulusan yang dapat memberikan kontribusi dalam membangun bangsa ini, dan seorang pemimpin yang baik adalah pemimpin yang memiliki keunggulan dalam 2 sisi, akademik/intelektual dan kepribadian. Tipikal sebagian lembaga pendidikan di Indonesia (bukan hanya itb) adalah mengedepankan orientasi kecerdasan akademik diatas segalanya. Padahal, berdasarkan contoh diatas kita kini seharusnya menyadari kalau kecerdasan akademik bukanlah syarat satu-satunya untuk menjadi orang yang sukses. Kita butuh yang lain dari itu semua, yakni kepribadian yang baik.
Negara ini sangat membutuhkan generasi penerus yang berkualitas, agar dapat membawa negara ini menjadi bangsa yang maju dan dapat bersaing dengan bangsa lain
Kita memang membutuhkan orang yang cerdas. Namun hanya sekedar cerdas dalam aspek akademik tidaklah cukup. Untuk menjadi seorang pemimpin yang baik, seseorang dituntut untuk memiliki paket yang lengkap. Hanya cerdas secara akademik belumlah lengkap. Dibutuhkan akhlak dan kepribadian yang baik untuk melengkapinya. Mungkin contoh Noordin M. Top sudah cukup menguatkan opini saya.

5. Langkah Konkret melalui TARGET and REWARD
Kebijakan rektorat yang sekarang untuk menghilangkan, baik secara sadar ataupun tidak sadar, sikap individualis yang dimiliki oleh sebagian mahasiswa ITB adalah dengan menekankan faktor bekerja sama dalam mengerjakan setiap tugas dalam setiap mata pelajaran. Kita semua tentunya sudah tahu, setiap tugas praktikum, soal-soal tutorial atau tugas lainnya pasti kita akan mengerjakannya di dalam kelompok. Dari kebijakan ini diharapkan akan tumbuh rasa solidaritas, kemampuan bekerja sama dan komunikasi yang baik diantara mahasiswa.
Apakah ini efektif? Menurut saya belum. Kadang-kadang saya menjumpai beberapa kelompok yang justru meng-akal-i tugas kelompok itu dengan membaginya menjadi beberapa bagian. Misal, soal tutorial yang seharusnya dikerjakan bersama, akan mereka bagi rata sesuai jumlah anggota, setiap orang membuat bagiannya, lalu dikumpulkan menjadi satu, dan selesai. Apa ini yang namanya kerja sama kelompok? Apa mereka melakukan interaksi, komunikasi, dan saling membantu satu dengan yang lainnya? Tidak, sama sekali. Individualistis tetap terjadi di sini, meski dengan cara yang lebih tak kasat mata.
Jika saya menjadi rektor ITB, saya akan mengemas suatu paket pendidikan yang, secara sadar ataupun tidak, akan membuat para mahasiswa merasa bahwa bekerja bersama adalah tindakan yang jauh lebih cerdas dibandingkan bekerja sendiri, bahwa bekerja sama akan lebih menyenangkan. Paket ini sudah akan saya mulai semenjak mahasiswa tersebut memasuki masa TPB. Mengapa? Karena bagi saya, awal TPB itulah yang paling dapat memancing rasa kerja sama mahasiswa, dengan mempertimbangkan kondisi pada saat itu mereka sedang dalam tahap belum mengenal satu sama lain.
Saya akan membuat program, yang sebenarnya sangat sederhana namun efektif, yang saya namakan TARGET and REWARD (TAR).
Program ini adalah program kelompok, yang dapat dibuat secara fleksibel, sesuai dengan apa yang dilakukan. Program ini bertujuan untuk menumbuhkan rasa solidaritas, sosialisasi yang baik, serta kerja sama antar sesama mahasiswa. Saya namakan Target and Reward, karena program ini mengharuskan sekelompok mahasiswa memenuhi target yang ditetapkan oleh Dosen, atau oleh rektorat sendiri. Misal, dalam sebuah mata kuliah fisika dasar, dosen akan secara acak mengelompokkan mahasiswa menjadi beberapa kelompok. Kelompok ini harus bersaing antar satu kelompok dengan yang lainnya untuk mencapai target yang ditetapkan dosenuntuk IP mereka. IP dihitung dari akumulasi rata-rata nilai masing-masing anggota kelompok. Kelompok dengan nilai rata-rata IP yang memenuhi target akan memperoleh penghargaan berupa tambahan nilai dalam transkripnya, sesuai level target yang ditetapkan.
Dengan cara ini, setiap anggota kelompok mau ataupun tidak mau harus memperhatikan kelompoknya, karena nilai mereka bergantung pada rekan sekelompok mereka. Yang lebih mengerti akan mengajari yang kurang mengerti, hingga semua anggota kelompok memiliki kemampuan akademik yang rata-rata sama. Secara tidak langsung, mereka akan memahami betapa berharganya arti sebuah kerjasama.
Program ini pun tidak akan hanya berkisar diantara rekan sebaya. Mengingat di lapangan pekerjaan yang sesungguhnya kita akan menemukan orang-orang di berbagai usia dan spesialisasi, program TAR ini juga akan mengelompokkan mahasiswa dari angkatan yang berbeda untuk saling bekerja sama. Misalnya, si A, mahasiswa angkatan 2007, yang NIM TPBnya adalah XXX, maka ia akan diberi target untuk bertanggungjawab atas kesuksesan akademik mahasiswa angkatan 2008 dan 2009 yang NIM TPBnya sama dengan A. Jika si A berhasil memenuhi level target tertentu, yakni seberapa mampu ia membina mahasiswa angkatan 2008 dan 2009 untuk mendapatkan IP yang baik, ia akan memperoleh tambahan nilai pada transkripnya. Tentunya dengan cara ini, terpaksa atau tidak, antara senior dan junior akan berinteraksi satu sama lain. Mereka akan saling bekerja sama untuk mencapai reward mereka masing-masing. Mereka akan memahami betapa berharganya arti sebuah kerjasama. Selain itu, akan muncul rasa kekompakan dan kekeluargaan tersendiri antar angkatan, yang tentunya akan menambah erat rasa solidaritas dan korsa warga ITB.
Mengingat program ini sangat erat kaitannya dengan akademik/intelektual, apabila program ini dapat berjalan dengan baik, kita dapat memperoleh dua keuntungan sekaligus. Pertama, tentunya prestasi akademik dan kemampuan intelektual mahasiswa ITB yang sudah baik akan semakin baik lagi. Kedua, secara sadar ataupun tidak sadar, akan muncul rasa kebersamaan, korsa, solidaritas, kekeluargaan, dan kemampuan bekerja sama yang baik bagi seluruh mahasiswa ITB.
Dari program ini diharapkan seluruh lulusan ITB tidak akan pernah lagi mengalami masalah dalam tes kepribadian/psikologi, seperti yang sering dialami oleh lulusan-lulusan ITB pada fit and proper test calon tenaga kerja dalam lapangan pekerjaan. Jangka panjangnya, lulusan-lulusan ITB akan mampu berkontribusi secara maksimal dalam usaha membangun Bangsa Indonesia menjadi bangsa yang disegani dan bersaing dengan negara-negara maju lainnya.
Jika saya menjadi Rektor ITB…idiom akan berubah, menjadi ITB=Institut Terbaik Bangsa.

3 comments:

  1. hehe nice post, no individualistis
    iq ok, eq ok dan agama mesti ok juga dong (ciri pemimpin sejati menyeimbangkan semua faktor)

    ReplyDelete
  2. susah kak kl masukin agama...sangat subjektif..perspektifnya saya apalagi...kan bukan mayoritas...

    coba aah sy tambhin dh tar. hehee.
    makasih:)

    ReplyDelete
  3. individualis? apanya yang individualis?
    seorang yang individualis justru cenderung tidak bergantung pada orang lain. kalo emang individualis, kenapa harus mencari lapangan pekerjaan? kenapa harus bergantung pada orang lain untuk mendapat pekerjaan? yang kurang dari institut ini justru adalah keberanian dan kepercayaan diri untuk berdiri sendiri, sebagian mahasiswa masih terlalu merasa nyaman di comfort zone-nya, ga berani keluar dari zona amannya. sebagian mahasiswa cuma berorientasi untuk mendapat pekerjaan berharap diterima di perusahaan besar. kalo memang "putera-puteri terbaik bangsa" seharusnya ga cuma bisa membuat sempit lapangan pekerjaan di Indonesia kan?

    ReplyDelete

Feel free to put on your thoughts about my writings :)