Friday, October 10, 2008

Globalisasi?

Era Globalisasi. Apa sih itu? Kalau menurut saya, globalisasi adalah suatu kondisi dimana masyarakat suatu negara menjadi bagian langsung dari masyarakat dunia, yang dapat berinteraksi kapanpun dalam bentuk apapun. Di era globalisasi ini semuanya menjadi begitu dekat. Jarak, waktu dan bahasa tidak lagi menjadi penghalang. Siapapun dapat mengakses kemanapun hanya dalam hitungan detik. Tidak ada rahasia yang dapat ditutupi karena setiap pihak akan tahu betul kondisi pihak lainnya. Persaingan akan terjadi pada segala aspek, sebagai bentuk pembuktian jati diri.

Indonesia saat ini sudah memasuki era globalisasi. Itu artinya seluruh masyarakat Indonesia, mulai dari pengemis di lampu merah hingga orang-orang berdasi, sudah harus siap menjadi bagian langsung masyarakat dunia, dengan segala hambatan, persaingan, dan keterbukaan yang ada. Apakah seluruh masyarakat Indonesia sudah siap? Mau tidak mau semua harus mengatakan siap, terlebih lagi para pemimpin-pemimpin bangsa yang berada di lini terdepan untuk mengelola bangsa ini.

Kepemimpinan dalam era globalisasi. Secara awam, rasanya kata-kata ini hanya bisa ditujukan kepada mereka yang berdasi atau bekerja di instansi pemerintahan, yang biasa disebut sebagai “pemimpin”. Padahal, kepemimpinan itu milik siapa saja dan setiap orang pasti memilikinya (Contohnya: Seorang ibu rumah tangga memiliki kepemimpinan dalam mengatur uang belanja dalam satu bulan, mengasuh dan mendidik anak-anaknya, hingga memenuhi kebutuhan pribadinya). Mengapa? Karena setiap orang pada dasarnya adalah pemimpin bagi dirnya masing-masing.

Kepemimpinan sangat kita perlukan dalam menghadapi era globalisasi ini. Tapi kepemimpinan yang seperti apa? Apa yang harus dilakukan untuk menghadapi globalisasi?

Dampak globalisasi kini sudah mulai terasa di Indonesia. Mulai dari semakin lancarnya barang-barang impor masuk ke Indonesia, krisis minyak, krisis pangan, hingga bangkrutnya pasar modal Amerika. Setiap perubahan negara lain akan mengakibatkan perubahan pula bagi Indonesia.

Pertama-tama dari barang-barang impor. Kini sebagian besar produk konsumsi Indonesia sudah dipenuhi barang-barang dari luar negeri. Mulai dari sabun, beras, tekstil, dan yang paling mudah dilihat adalah barang-barang elektronik. Pada berbagai iklan di berbagai stasiun televisi, kini dapat kita temukan harga barang-barang elektronik yang begitu murah/terjangkau. Hal ini tidak lain dan tidak bukan adalah salah satu dampak dari globalisasi, atau lebih spesifik lagi perdagangan bebas.

Selanjutnya, krisis minyak. Sejak 12 tahun terakhir harga BBM sudah naik sekitar 600% (Angka ini sebenarnya akan lebih fantastis jika daya beli BBM masyarakat Indonesia tidak disubsidi oleh pemerintah). Amerika mencari cara dengan mengadakan konversi kedelai menjadi biofuel. Akibat selanjutnya, sebagi negara yang mengkonsumsi kedelai dalam jumlah yang tinggi, krisis pangan juga mengancam Indonesia.

Mengenai hal yang terakhir, bangkrutnya pasar modal Amerika, rasanya tidak perlu dibahas banyak. Saat ini seluruh headline koran di Indonesia ramai membicarakan tentang kehancuran pasar modal amerika yang disebabkan oleh Lehman Brothers ini. Indonesia kini terkena dampaknya dengan gegernya Bursa Efek Indonesia.

Kesalahan yang paling fatal bagi Indonesia adalah: Indonesia lebih sering pasif daripada aktif.

No comments:

Post a Comment

Feel free to put on your thoughts about my writings :)