Wednesday, January 09, 2013

RSBI BUBAR!

Baru-baru ini ada berita yang lumayan meledak di bidang kebijakan pendidikan, yaitu RSBI dibubarkan.

apa itu RSBI? RSBI adalah singkatan dari Rintisan Sekolah Bertaraf Internasional. Sekolah yang memiliki "barcode" RSBI biasanya disyaratkan untuk memenuhi berbagai aspek, seperti: pengajarnya mampu mengajar dalam berbahasa inggris, modul pelajaran berbahasa inggris, bahasa pengantar dalam belajar menggunakan bahasa inggris, dll.

niat dibalik dibuatnya RSBI sangat baik, yakni supaya sekolah-sekolah bisa meningkatkan mutunya menjadi sekelas sekolah2 di negara maju. Namun, RSBI juga menjadi semacam "beban" bagi sekolah-sekolah yang belum mencapainya, dan menjadi "senjata promosi" bagi sekolah-sekolah yang mampu mencapai kualifikasinya.

Senjata promosi? Jelas....sekolah2 RSBI akan menunjukkan dengan jelas status sekolah RSBI di setiap leaflet promosi sekolahnya. Selain itu, sekolah RSBI umumnya meminta biaya pendidikan yang lebih tinggi daripada sekolah biasa.

Apakah yang RSBI selalu lebih baik? Belum tentu. Sebagian sekolah di Indonesia yang memperoleh kualifikasi RSBI mungkin memang "menggodok" pengajar-pengajarnya serta kurikulumnya sehingga bisa menjadi mentor dan lembaga pendidikan yang bisa menghasilkan lulusan sekelas sekolah di amerika atau inggris. tapi, ada banyak sekolah berkualifikasi RSBI yang terkesan "memaksakan" kualitas, yakni dengan "mengkarbit" pengajar-pengajarnya dengan beberapa kali training mengajar dalam bahasa inggris, dan saat ada pengecekan / penilaian / pemeriksaan kualitas RSBI, sekolah tersebut akan membuat "skenario" kelas RSBI, dimana murid2 yang memang dari sononya jago bahasa inggris akan diplot untuk bertanya mengenai topik yang dipresentasikan di kelas oleh sang guru (yang juga sudah memberitahu murid tersebut sebelumnya mengenai topik yang akan diajarkan), sehingga kesan yang ditimbulkan adalah kelasnya komunikatif 2 arah dalam bahasa inggris.

Mengenai biaya, sekolah bertaraf RSBI umumnya lebih mahal daripada sekolah biasa. Menurut saya, ini wajar, jika kualitas yang diberikan memang lebih baik. Namun, sayang sekali kalau ternyata anak yang bersekolah si sekolah RSBI, sudah bayar mahal2, masih kalah di lomba antar kecamatan dengan anak yang berasal dari sekolah biasa. dimana output RSBI nya?

Saya bukannya menuduh sebagian sekolah, namun beginilah kenyataannya, berdasarkan hasil diskusi saya dengan teman-teman. Syukur saya sudah lulus lama dari bangku wajib pendidikan, sehingga tidak harus menghadapi problematika RSBI ini.

Untung waktu saya SMA orang tua saya punya biaya untuk menyekolahkan saya ke sekolah bertaraf RSBI. Mungkin banyak teman2 yang tidak mampu yang juga ingin merasakan belajar dalam bahasa inggris dan fasilitas yang sekelas internasional, namun tidak punya cukup biaya. Secara tidak langsung dan mungkin tidak disadari oleh pelaku pendidikan, RSBI menimbulkan kesenjangan.

Sekarang RSBI sudah dibubarkan. Setiap sekolah dianggap sama, sekolah biasa. Kualitas suatu sekolah tidak ditentukan oleh RSBI atau tidak, tapi murni dari standar mutu yang penilaiannya sama. Jadi tidak akan ada lagi sekolah RSBI yang bagus, atau sekolah non RSBI yang bagus. Bagus atau tidaknya sekolah murni dilihat dari mutu kurikulumnya, alumninya, dan pengajarnya. Kalau sekolah itu mau mengajar dalam bahasa inggris, biarlah itu terjadi. Asalkan itu memang karena kualitas pengajar dan yang diajar mumpuni untuk berdiskusi dalam bahasa asing. Jika belum mumpuni, ya jangan dipaksakan. Segala sesuatu yang dipaksakan hasilnya pasti tidak baik, toh?

Kalau banyak sekolah menyayangkan dihapuskannya RSBI ini, saya bingung, Mengapa? Kalau memang sekolah itu sudah memenuhi kualitas layaknya sekolah setaraf di amerika / inggris / negara maju, maka sekolah itu harus tetap bangga dengan kapabilitas mereka. Dan tentu mereka tidak akan kehilangan peminat. Kecuali, kalau sekolah tersebut merasa dari nama RSBI lah mereka bisa mendapatkan bantuan pembangunan sekolah yang lebih besar dari sekolah biasa, atau kalau dibilang UUD (ujung-ujungnya duit), maka tidak heran mereka kecewa nama RSBI yang mereka sandang terpaksa dihapus.

Mengenyam pendidikan itu hak semua anak. Mengenyam pendidikan dimanapun mereka mau adalah pilihan semua anak. Yang boleh membatasi seharusnya hanyalah kemauan anak itu sendiri, jarak, dan (mungkin) biaya sebagai faktor kecil. Jangan sampai biaya menjadi momok pertama bagi anak indonesia dalam memilih pendidikan yang dia inginkan.

lebih lanjut mengenai RSBI bisa dibaca di sini

No comments:

Post a Comment

Feel free to put on your thoughts about my writings :)